
Nururrahman — Achmad Jofa Pratomo, salah satu siswa SMAIT Pesantren Nururrahman, kembali mengharumkan nama sekolah dan Indonesia di tingkat olahraga internasional. Jofa berhasil meraih medali emas dalam ajang Pugnator Open International Taekwondo Grandslam Youth Championship 2026 yang diselenggarakan pada Oktober 2026. Pencapaian ini menjadi puncak dari dedikasi dan konsistensinya dalam menekuni cabang olahraga taekwondo.
Keterlibatan Jofa dalam dunia taekwondo bermula sejak ia duduk di kelas 1 Sekolah Dasar (SD) atas arahan orang tuanya. Sempat rehat pada kelas 5 SD, ia kembali berlatih ketika memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) melalui kegiatan ekstrakurikuler. Ketertarikannya untuk menekuni olahraga ini secara lebih mendalam kembali tumbuh saat ia berada di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).
Perjalanan Jofa menuju tangga juara tidak didapatkan dengan mudah. Saat duduk di kelas 11 SMA, ia mulai memberanikan diri mengikuti kejuaraan, meskipun harus mengalami kekalahan dalam dua turnamen awal. Pengalaman tersebut justru memicu semangatnya untuk berlatih lebih serius hingga akhirnya bergabung dengan klub taekwondo dan lolos seleksi pemusatan latihan (Training Center) pada bulan Desember.
Kerja keras tersebut mulai membuahkan hasil secara bertahap. Pada April 2026, ia sukses meraih medali perak, yang kemudian disusul dengan pencapaian sebagai Juara 1 pada Juli 2026. Selain itu, ia juga mencatatkan prestasi dengan meraih medali perak pada kejuaraan tingkat Kota Depok, sebelum akhirnya berhasil meraih medali emas pada tingkat internasional pada Oktober 2026.
Keberhasilan Jofa tidak terlepas dari porsi latihan yang intensif serta pengaturan waktu yang teratur. Di bawah bimbingan klub dan sekolah, ia menjalani latihan sebanyak empat kali dalam seminggu, yang mencakup penguatan fisik dan penguasaan teknik. Menjelang kejuaraan, intensitas latihan disesuaikan untuk memastikan kondisi fisik tetap stabil saat bertanding.
Aspek penting lainnya adalah bagaimana ia sebagai siswa kelas 12 dihadapkan pada tantangan besar dalam membagi waktu antara kegiatan akademik dan persiapan kejuaraan. Perencanaan jadwal secara mingguan dan bulanan menjadi kunci agar kedua kewajiban tersebut berjalan seimbang dan tidak saling berbenturan.
Ia mengakui bahwa menjaga fokus antara akademik dan latihan merupakan tantangan terberat, terutama saat harus mengikuti try out sekolah di tengah persiapan pertandingan.
Berdasarkan pengalaman yang ia dapatkan dari pertandingan pada ajang internasional memberikan pengalaman berharga bagi Jofa. Ia mengaku sempat terkejut dan merasa gugup saat melihat megahnya arena pertandingan yang jauh lebih besar dibandingkan gelanggang olahraga yang biasa ia gunakan.
“Saat pertama kali memasuki lokasi pertandingan, sempat terkejut melihat ukuran tempat yang jauh lebih besar dan megah. Hal tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran dan rasa gugup ketika dipertemukan dengan lawan,” ujarnya.
Meskipun demikian, dukungan penuh dari orang tua, pelatih, serta rekan satu tim menjadi kunci utama yang membangkitkan rasa percaya dirinya. Menurutnya, pelatih dan teman-teman satu tim selalu memberikan motivasi serta saling mendukung sepanjang proses latihan hingga pertandingan berlangsung.
Menutup pengalamannya, Jofa memberikan pesan dan dorongan semangat bagi para siswa lain yang ingin mengukir prestasi di bidang nonakademik, khususnya olahraga.
“Memiliki motivasi yang kuat adalah hal yang utama, karena ketika motivasi mulai hilang, semangat juga dapat menurun. Selain itu, penting untuk mengatur waktu dengan baik agar kegiatan akademik dan nonakademik tetap seimbang, serta konsisten menjalani setiap prosesnya,” ujarnya.

